SILIWANGI MENJAGA BANDUNG

 SILIWANGI MENJAGA BANDUNG

 Panzer sebagai bagian dari peralatan kavaleri tidak hanya dapat digunakan dalam pertempuran sesama panzer dan tank musuh seperti yang terjadi di Afrika, Eropa  dan Rusia pada Perang Dunia ke II.  Di Jawa Barat, panzer yang didorong kereta api digunakan untuk mengawal kereta api yang sering mendapat gangguan  dan penggulingan oleh gerombolan DI/TII sebelum tahun 1962.

            Pada masa itu jika anda akan ke Bandung melalui darat dari manapun, anda tidak dapat berangkat kapanpun sekehendak hati anda.  Anda harus mempertimbangkan jangan sampai menjelang sore masih berada di luar Bandung.

            Sebaliknya dari Bandungpun orang harus  begitu. Di batas aman  di luar kota dijaga oleh Siliwangi, di mana kendaraan yang terlalu sore berangkatnya akan diminta kembali ke Bandung.

            Kota Bandung sendiri dijaga ketat oleh TNI Siliwangi. Di Taman Hutan Juanda dekat Gua Belanda, tentara Siliwangi mendirikan penjagaan menghalangi kemungkinan   infiltrasi  DI/ TII dari Maribaya dan Lembang.

            Di desa-desa, petanipun merasa tidak aman karena DI/TII membunuhi  anggota tentara, pemuda OPR/ OKD penjaga desa, guru dan siapapun yang berbeda pendapat dengan mereka dan tidak bersedia membantu mereka dalam bentuk bahan makanan dan beras.

            Para petani yang kaya membeli tanah dan mendirikan rumah di Bandung, sebagai tempat tinggal yang aman.

Para penggarap dan petani yang kurang mampu lalu mendirikan benteng bambu setebal setengah meter setinggi tiga meter sebagai tempat bermalam mereka beserta ternak dan binatang piaraan lainnya. Di dalam benteng-benteng itu didirikan gubug-gubug sederhana (saung, Sd). Benteng dijaga oleh OKD (Organisasi Keamanan Desa) atau OPR (Organisasi Pertahanan Rakyat) yang dipersenjatai oleh TNI. Senjata yang digunakan OPR senjata yang kuno bukan standar TNI dan dipimpin oleh Babinsa (Bintara Pembina Desa).

Di kiri dan kanan sepanjang jalan kereta api antara Maos dan Bandung, penumpang kereta api dapat melihat benteng-benteng itu.

 

 

 

Gambar 1:Benteng bambu di pertigaan Malangbong, Garut.

           

Di pertigaan tikungan Malangbong terdapat benteng bambu yang luas.

            Kereta api juga perlu dikawal karena beberapa kali terjadi penggulingan kereta api oleh DI/TII di Trowek (pada 1962  nama Trowek diganti menjadi Cirahayu) Warungbandrek, Lebakjero, dan Padalarang.

 

 

Gambar 2: Panzer-dorong mengawal Lokomotif Krupp D52

 

            Kodam VI Siliwangi (sekarang Kodam III) juga mengawal kereta api  berlokomotif uap D-52 buatan Krupp dengan panzer bermesin. Panzer buatan PALAD (Peralatan Angkatan Darat, sekarang PINDAD) yang berada di depan KA untuk meneliti rel yang akan dilewati KA. Panzer PALAD bermesin diesel Ford VBA65HI dapat berlari 60 km/jam.

 

 

Gambar 3: Panzer buatan PALAD/ Peralatan Angkatan Darat, sekarang PT. PINDAD.

 

            Bila ada pertempuran di depan, KA harus berhenti di halte terdekat dan menunggu berita  radio dari panzer bahwa KA boleh diberangkatkan.

Karena udara di dalam gerbong panas, sambil menunggu  berita  dari panzer, para penumpang keluar sambil menanyakan  apa yang terjadi.

            Para pedagang asong remaja menawarkan teh panas dalam gelas tanpa gula yang dibawa dengan baki jinjing  dari kayu dan membawa cerek  berisi teh panas. Penumpang yang lapar membeli nasi tahu panas yang dibungkus dengan daun-daun pisang. “Sarangu tahu, sarangu tahuuu”, begitu para pedagang nasi menawarkan dagangannya. Di  dalam gedung halte tersedia limun dengan tutup porselen dengan bantalan karet ban-dalam mobil agar dapat ditutup rapat dengan tungkai kawat.

 

 

Gambar 4: Siliwangi menjaga KA di Lebakjero.

 

Pada bulan Juni 1962, Sersan Dua Ara Suhara dan Letnan Dua Suhanda dari Kompi C Batalyon Kujang II  328 Siliwangi menyergap pimpinan DI/TII Sekarmaji Marijan Kartosoewirjo di Gunung Geber Majalaya di selatan Bandung.

            Sesudah itu berangsur-angsur  para anggota DI/ TII menyerahkan diri kepada pasukan Siliwangi.

Semenjak itu kereta api ke Bandung tidak perlu lagi dikawal dengan panzer.

            Pemberontakan bersenjata yang lamanya 13 tahun itu telah menghambat pertumbuhan ekonomi Jawa Barat, ribuan ibu-ibu desa menjadi janda, ribuan anak menjadi yatim/ yatim piatu dan hidup sengsara,

            Menurut dakwaan Jaksa Penuntut dalam Pengadilan Militer kerugian masyarakat dan negara antara periode 1953 sampai 1960, 22.895 orang  terbunuh  dan 115.822 rumah dan sekolah telah dibakar.

            Padahal pemberontakan DI/ TII sudah dimulai sejak 1949. Tentulah kerugian masyarakat  lebih besar lagi.

            Ambisi politik kekuasaan sering melupakan ajaran agama, kekejaman dilakukan oleh DI/ TII Melanggar hukum, DI/ TII telah mendirikan negara dalam NKRI.

Ibu-ibu dan anak-anak di Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian barat telah hidup lebih sengsara karena  suami-suami dan bapak-bapak mereka tewas.***

           

Lokomotif D-52 disimpan di  TMII Jakarta dan panzer bermesin disimpan di Museum Mandala Wangsit Siliwangi di Jl. Lembong Bandung.

Saya pernah naik kereta api yang dikawal panzer, mengunjungi  Malangbong, bertemu Siliwangi di depan Gua Belanda  di Pakar,  melihat Siliwangi di Lebakjero, diberhentikan Siliwangi agar kembali ke Bandung di dekat Bukit  Panorama Kebun Teh Ciater. Sersan Ara Suhara, anak buah Letnan Suhanda, pensiun dari ABRI sebagai perwira. Salah satu puteranya menjadi dokter di RS Dustira Cimahi.

 

Sardjono Angudi, angudiwatugiri@gmail.com/ 24/03/2010 diperbaiki24/06/2022                                                                            

Komentar